Lidah Tak Bertulang

Lidah tak bertulang bukan hanya sebuah pepatah, tapi memang benar kalau kenyataanya lidah tidak bertulang.Lidah tidak bertulang biasanya di gunakan untuk mengkiaskan tentang kata-kata yang keluar dari mulut kita atau mulut orang lain.
Gara-gara lidah tidak bertulang ini kita sering di pusingkan atau di lempar ke dalam suatu keadaan yang tidak menyenangkan, entah oleh kata-kata kita sendiri atau oleh kata-kata orang lain. ya karena kita tidak bisa menjaga lidah ini. Ada juga yang menggunakan perumpaan pandai bersilat lidah. bukan lidah kita bisa menggunakan jurus-jurus pencak silat atau gimana..tapi pandai bersilat lidah adalah orang yang pandai menggunakan kata-kata untuk berkelit atau untuk menyerang orang lain demi kepentingan dirinya sendiri atau untuk melakukan pembenaran terhadap apa yang dia lakukan..

Hal yang berhubungan dengan pembelaan diri, atau beradu argumen sering di hubungkan dengan benda yang satu ini, Lidah. Karena lidah tidak bertulang, banyak orang dengan mudah mengeluarkan kata-kata, kalimat atau pernyataan yang pada akhirnya membuat dirinya terjebak ke dalam situasi yang kurang menguntungkan akibat kata-kata, kalimat atau pernyataan yang dia keluarkan.Kalimat yang tidak terkontrol ini sering keluar dari bibir orang yang sedang emosi dan pada akhirnya akan di dapati sebuah kesimpulan bahwa lidah memang tidak bertulang. Kita sangat rentan terpeleset kemudian terjatuh akibat dari pernyataan kita sendiri.
Apa yang sudah di bangun, sangat mudah runtuh dalam sekejap hanya karena kita tidak bisa menjaga lidah kita. 

Apalagi kalau kita sudah berdebat beradu argumen, dengan ritme yang cepat lidah mengalunkan kata-kata dengan cepat, kata-kata, kalimat dan pernyataan yang sering tidak melalui sensor logika akan sebab dan akibat dari pernyataan itu.

Malik Bin Anas pernah mengatakan..

"Perdebatan Itu Menyesatkan hati dan Mempusakai Kedengkian"

Kalau kita mau sedikit meluangkan waktu untuk mencoba merenungi apa yang di katakan Malik Bin Anas, itu memang sangat masuk akal. Karena hampir semua orang yang berdebat dan argumennya dapat di rontokkan, itu menciptakan dendam dan kebencian. Perdebatan juga Menyesatkan hati, itu memang benar, karena argumen yang di keluarkan disertai perasaan ingin menang dan mendapat pengakuan akan kebenaran  dari argumennya, nah kalau sudah begini bukan lagi kebenaran hakiki yang di cari, tapi sudah menyangkut kebenaran pribadi, ego dan keinginan untuk mendapat pengakuan dan dukungan dari orang lain. disinilah peran silat lidah sering kita dapati.

Ada orang bijak yang pernah mengatakan "Pada saat Manusia Sedang Emosi, sedang marah, Kemampuan berpikirnya ada pada LEVEL TERENDAH".

Tidak mungkin orang yang sedang berdebat tidak di sertai rasa amarah dan emosi, sekecil apapun itu pasti ada. Jadi sangat wajar kalau kita sedang marah dan emosi,kita sering mengeluarkan kata-kata atau pernyataan yang di kemudian hari itu akan merugikan kita sendiri.

Untuk mencari solusi dari suatu kasus atau masalah yang sedang terjadi, sebenarnya bisa di lakukan dengan DISKUSI yang interaktif. Diskusi tanpa disertai emosi, diskusi dengan penuh perasaan rendah hati, diskusi tanpa ego yang memuncak..
Tapi sayangnya, dari diskusi yang tadinya berjalan lancar pada ujungnya akan membawa kita pada kondisi debat yang penuh emosi dan ketegangan.
Kedewasaan kita di tuntut berperan disitu, kesadaran kita akan rasa yang menurut pepatah jawa Andap Asor Tepo Seliro (rendah hati dan menghargai orang lain_) itu sangat di tuntut. Karena tanpa itu semua Diskusi hanya akan menjadi ajang adu mulut dan adu kebenaran menurut versi masing-masing individu.

Saya rasa hal ini bisa dilakukan dengan catatan kita masih bisa mengingat akan sebuah rasa rendah hati dan tidak merasa benar sendiri.
Ingat, Yang menghancurkan Hiroshima dan Nagasaki bukanlah Bom Atom, tapi yang menghancurkan dua kota besar di Jepang itu adalah sebuah AMARAH. kalau kita kritis kita bisa menyimpulkan, bahwa amarah adalah mesin pembunuh yang paling mengerikan. dari mana datangnya amarah ini..berawal dari sebuah nyanyian lidah-lidah yang kemudian menyimpulkan dengan lidah yang kemudian memacu hati untuk merasakan amarah.  

Saya jadi terbawa pada suatu masa dimana ketika kami sedang berdiskusi dan terjadi adu argumen, moderator menyela dengan ucapan" Marilah kita untuk Sejenak berasama-sama mengucap Istighfar..Astaghfirullaaah...."
Semoga bermanfaat..



1 comments:

Recent Posts