Showing posts with label Sebuah Renungan. Show all posts
Showing posts with label Sebuah Renungan. Show all posts

Wednesday, July 22, 2015

Ternyata Lidah Itu Bertulang

Lima tahun yang lalu saya pernah menulis, bahwa lidah itu tidak bertulang, ternyata itu salah besar. Bahwa lidah yang sebenarnya adalah memiliki tulang.
Hanya saja jarang yang mengetahui dimana letak tulang yang dapat membuat lidah tidak elastis bin fleksibel alias tidak kaku dalam setiap tarian gerakannya.

Lidah di katakan tidak bertulang karena banyak sekali orang yang mengucapkan dengan lancar perkataan yang menyakiti lawan bicaranya.
Akhir cerita dari setiap kali terjadi kejadian dimana seseorang di sakiti, di cambuki, di pukuli, dengan kata-kata, adalah sebuah kata pemakluman yang sebenarnya sangat memaksakan;
"Yah wajar, namanya lidah tidak bertulang, jadi dia bisa berkata seperti itu,itu hanya khilaf, sabar ya"

Kita memang harus memaklumi dan memberikan apresiasi kepada orang yang mencoba membelai hati kita yang sedang terluka  karena sebuah perkataan yang menurut kita; "Keji", "Kejam", "Tidak Berperasaan."
Ujung-ujungnya kita juga harus ikut memaklumi, dan menerima sebuah kenyataan dengan sangat terpaksa, dan tentunya dengan tidak ikhlas harus menerima fakta bahwa; lidah memang tidak bertulang.

Itu semua karena kehebatan kita dalam memaklumi, mencoba memahami, mencoba menerima untuk kemudian memaafkan kesalahan-kesalahan orang lain yang di lakukan kepada kita.
Bukan karena kita tahu bahwa sebenernya lidah itu bertulang. Kalo kita tahu lidah itu bertulang, wah bisa gawat tuh kejadiannya.
Saya tidak sedang memprovokasi anda. 
Ingat..saya sedang tidak memprovokasi anda.

Karena pada kenyataannya,lidah memang bertulang. seperti yang saya katakan pada awal tulisan ini, hanya sedikit orang yang mengetahui bahwa lidah itu bertulang.
"Kalau lidah itu bertulang, trus dimana dong letak tulangnya?"

Letak tulang dari lidah kita ada di dua tempat, yaitu di otak dan di hati.
Ketika kita mampu menggunakan otak dan hati, maka lidah akan mempunyai kerangka dan mampu membatasi geraknya,
Ketika kita mampu menggunakan otak dan hati, maka lidah tidak bisa bebas bergerak mengucapkan kata-kata yang ingin kita ucapkan.
Sebenarnya tidak ingin kita ucapkan, hanya saja sangat bernafsu untuk mengucapkan, lebih dari ingin.

Di sini kelemahan dari tulang yang di miliki lidah.
Ketika emosi membakar jiwa, hancurlah kekuatan tulang yang menjadi pembatas gerak lidah kita untuk mengucap.
Ingat:
Ketika kita sedang emosi, maka level kemampuan otak kita ada pada level terendah.
Jadi kita tidak mampu menguasai diri dalam mengelola lidah kita agar tetap bertulang.

Untuk menjaga kekuatan dari tulang kita, kita hendaknya selalu menjaga diri agar tidak di kuasai emosi.
Ketika emosi menguasai, hancurlah tulang dari lidah kita.
Dan..
Lidah memang bertulang.

Semoga bermanfaat


Thursday, November 1, 2012

Belajar Dari Sesuatu Yang Pecah

"Praaang..."
Gelas yang jatuh membentur lantai itu pecah, memaksa kopi yang masih hangat keluar dari dalam wadahnya dan berusaha menyatu dengan lantai yang tidak mau menerimanya.
Ketika pecah..gelas yang sebelumnya masih berwujud gelas itu sudah tidak bisa di katakan gelas lagi..tapi sudah menjadi bekas gelas, beling atau lebih ekstrim itu adalah sampah yang harus segera dibersihkan supaya tidak melukai kaki yang menginjaknya.

Gelas yang masih utuh, kalau kita perhatikan lebih mendetail adalah sebuah kumpulan zat terkecil yang berkumpul dan bergabung kedalam bentuk zat yang lebih besar yaitu gelas.
Ketika pecah, sejatinya bukan masalah gelas,bekas gelas atau beling dan sampah. Sejatinya semua itu masalah zat yang terpisah karena sebuah kejadian yang sebelumnya menyatu juga karena sebuah kejadian. Kejadian yang bernama kausalitas, ya sebuah kausalitas memang tidak pernah bisa di lepaskan dari kehidupan selama kehidupan itu ada.

Berkumpulnya suatu molekul, menyatunya suatu zat, membentuk atau dibentuk menjadi sebuah benda, adalah isyarat alam yang mengajarkan kepada kita tentang sebuah hubungan antar sesama yang mempunyai potensi untuk pecah seperti gelas.

Ketika gelas tersebut pecah dan kita berusaha menyatukannya maka akan terbentuk sejarah yang menunjukkan gelas itu pernah pecah.
Ketika gelas tersebut kita daur ulang menjadi benda yang lain, maka setiap molekul yang ada yang akan menyimpan rapat-rapat sejarah pernah terjadinya perpecahan diantara molekul pembentuk gelas, karena faktor luar atau karena faktor dalam.

Menyatukan gelas yang pecah adalah seperti berusaha menyatukan sebuah hubungan manusia yang pecah.
Kita berusaha menyatukan lagi sebuah hubungan dengan bersama-sama mengikhlaskan dan membiarkan sejarah itu ada dan menjadi suatu pelajaran yang indah, karena sejarah memang tidak dapat kita hapus.

Atau kita tidak bisa menerima kenyataan sejarah tersebut kemudian kita berusaha mendaur ulang hubungan itu kedalam bentuk hubungan baru bersama indiividu baru, yang sama-sama mempunyai sejarah masa lalu yang tidak kita ketahui, dan kemungkinan akan dapat kita ketahui di kemudian hari tapi tetap akan menyatu.

Pada saat gelas pecah menjadi beling dan kemudian kita katakan itu adalah sampah, itu ada di alam nyata.
Pada saat hubungan dua manusia  pecah kemudian dikatakan pisah, itu ada dalam dunia nyata dan kuat tertanam di ingatan kita menjadi sebuah sejarah yang selalu terbaca.

Semua yang pecah akan menyatu, jika "sejarah" bukan lagi menjadi masalah. Dalam hal ini masalah ada dalam pikiran manusia yang mencoba mengusik dan mempermasalahkan sejarah dan mencoba memberikan batasan-batasan nilai yang terbentuk atas dasar idealisme.

Ketika ada seseorang bertamu kerumah saya dan saya menyuguhi tamu tersebut dengan minuman di dalam gelas yang mempunyai sejarah pernah mengalami pecah yang di ceritakan melalui sambungan-sambungan dan alur penyatuan pecahan tersebut menggunakan perekat atau lem, ada kemungkinan tamu tersebut akan mempermasalahkan itu dengan dalih etika.

Ketika kita bimbang untuk menentukan keputusan menyatukan lagi hubungan yang sudah pecah, atau tidak menyatukan lagi dan mencoba membentuk hubungan baru bersama orang lain.
Kita sepatutnya bertanya, sehebat apa kita mampu meredam gejolak dendam yang ada dalam perjalanan sejarah?

Semoga bermanfaat

Tuesday, May 4, 2010

Sekumpulan Orang Yang Menuju Pulang

Saya, anda, mereka, entah yang di kolong jembatan atau di "kolong" gedung-gedung mewah pada hakekatnya adalah sama. Kita semua hanyalah sekumpulan orang yang menuju pulang, disadari atau pun tidak di sadari, kita adalah sekumpulan orang yang menuju pulang.



Kekayaan, kekuasaan, kebanggaan, kecantikan dan ketampanan tidak lagi menjadi hal yang mempunyai arti atau nilai lebih ketika gerbang "rumah" sudah ada di depan mata. Tidak ada yang bisa membawa kita kembali ke masa lalu, masa dimana ada kejayaan, atau sebaliknya, masa di mana ada penderitaan. Semua menjadi cerita-cerita yang tidak sempat di ceritakan. Semua menjadi kenangan-kenangan yang tidak sempat lagi untuk kita kenang, ketika kita sudah masuk ke dalam rumah tempat kita kembali pulang


Hidup dalam kehidupan kita dengan penuh arti kehidupan yang positif menurut "aturan kehidupan" yang berlaku, adalah sebuah keharusan yang harus kita terapkan dalam kehidupan kita. Sehingga ketika kita pulang menuju rumah tempat kita kembali, kita akan pulang dengan wajah tanpa ada goresan hitam dari jelaga kesedihan.


Saya teringat apa yang pernah dikatakan Nietzsche, "Janganlah engkau mati sebelum bisa menghantui pikiran semua orang". Dari apa yang di katakan Nietzsche, kita bisa mengambil sebuah kesimpulan tentang pentingnya arti hidup dalam kehidupan. Karena tanpa adanya arti dalam kehidupan kita, kita tidak akan bisa menjadi orang yang bisa menghantui pikiran semua orang. Kita hanya akan menjadi cerita kesedihan selama beberapa hari, untuk kemudian cerita-cerita kesedihan itu hilang dengan sendirinya, bersama hilangnya kesedihan itu sendiri.


Kita hanyalah sekumpulan orang yang menuju pulang, jika kita tidak menanamkan arti hidup dalam kehidupan kita, adalah sebuah konsekswensi logis ketika kita mendapatkan kegersangan, kehampaan, merasa tidak ada prestasi dalam kehidupan kitaketika kita sudah mendekat dengan pintu rumah tempat kita pulang. Tidak akan pernah ada taman yang indah jika tidak ada yang membuatnya.



Menghidupkan arti hidup dalam kehidupan, lebih menghidupkan hidup dengan arti yang positif, adalah awal dari kehidupan kita setelah kematian.

Jasa Ketik Surabaya: Solusi Praktis dan Ekonomis untuk Kebutuhan Dokumen Anda

  Surabaya, sebagai salah satu kota terbesar di Indonesia, memiliki berbagai kebutuhan administratif, baik untuk keperluan bisnis, akademik,...