"Praaang..."
Gelas yang jatuh membentur lantai itu pecah, memaksa kopi yang masih hangat keluar dari dalam wadahnya dan berusaha menyatu dengan lantai yang tidak mau menerimanya.
Ketika pecah..gelas yang sebelumnya masih berwujud gelas itu sudah tidak bisa di katakan gelas lagi..tapi sudah menjadi bekas gelas, beling atau lebih ekstrim itu adalah sampah yang harus segera dibersihkan supaya tidak melukai kaki yang menginjaknya.
Gelas yang masih utuh, kalau kita perhatikan lebih mendetail adalah sebuah kumpulan zat terkecil yang berkumpul dan bergabung kedalam bentuk zat yang lebih besar yaitu gelas.
Ketika pecah, sejatinya bukan masalah gelas,bekas gelas atau beling dan sampah. Sejatinya semua itu masalah zat yang terpisah karena sebuah kejadian yang sebelumnya menyatu juga karena sebuah kejadian. Kejadian yang bernama kausalitas, ya sebuah kausalitas memang tidak pernah bisa di lepaskan dari kehidupan selama kehidupan itu ada.
Berkumpulnya suatu molekul, menyatunya suatu zat, membentuk atau dibentuk menjadi sebuah benda, adalah isyarat alam yang mengajarkan kepada kita tentang sebuah hubungan antar sesama yang mempunyai potensi untuk pecah seperti gelas.
Ketika gelas tersebut pecah dan kita berusaha menyatukannya maka akan terbentuk sejarah yang menunjukkan gelas itu pernah pecah.
Ketika gelas tersebut kita daur ulang menjadi benda yang lain, maka setiap molekul yang ada yang akan menyimpan rapat-rapat sejarah pernah terjadinya perpecahan diantara molekul pembentuk gelas, karena faktor luar atau karena faktor dalam.
Menyatukan gelas yang pecah adalah seperti berusaha menyatukan sebuah hubungan manusia yang pecah.
Kita berusaha menyatukan lagi sebuah hubungan dengan bersama-sama mengikhlaskan dan membiarkan sejarah itu ada dan menjadi suatu pelajaran yang indah, karena sejarah memang tidak dapat kita hapus.
Atau kita tidak bisa menerima kenyataan sejarah tersebut kemudian kita berusaha mendaur ulang hubungan itu kedalam bentuk hubungan baru bersama indiividu baru, yang sama-sama mempunyai sejarah masa lalu yang tidak kita ketahui, dan kemungkinan akan dapat kita ketahui di kemudian hari tapi tetap akan menyatu.
Pada saat gelas pecah menjadi beling dan kemudian kita katakan itu adalah sampah, itu ada di alam nyata.
Pada saat hubungan dua manusia pecah kemudian dikatakan pisah, itu ada dalam dunia nyata dan kuat tertanam di ingatan kita menjadi sebuah sejarah yang selalu terbaca.
Semua yang pecah akan menyatu, jika "sejarah" bukan lagi menjadi masalah. Dalam hal ini masalah ada dalam pikiran manusia yang mencoba mengusik dan mempermasalahkan sejarah dan mencoba memberikan batasan-batasan nilai yang terbentuk atas dasar idealisme.
Ketika ada seseorang bertamu kerumah saya dan saya menyuguhi tamu tersebut dengan minuman di dalam gelas yang mempunyai sejarah pernah mengalami pecah yang di ceritakan melalui sambungan-sambungan dan alur penyatuan pecahan tersebut menggunakan perekat atau lem, ada kemungkinan tamu tersebut akan mempermasalahkan itu dengan dalih etika.
Ketika kita bimbang untuk menentukan keputusan menyatukan lagi hubungan yang sudah pecah, atau tidak menyatukan lagi dan mencoba membentuk hubungan baru bersama orang lain.
Kita sepatutnya bertanya, sehebat apa kita mampu meredam gejolak dendam yang ada dalam perjalanan sejarah?
Semoga bermanfaat
Thursday, November 1, 2012
Tuesday, May 4, 2010
Sekumpulan Orang Yang Menuju Pulang
Saya, anda, mereka, entah yang di kolong jembatan atau di "kolong" gedung-gedung mewah pada hakekatnya adalah sama. Kita semua hanyalah sekumpulan orang yang menuju pulang, disadari atau pun tidak di sadari, kita adalah sekumpulan orang yang menuju pulang.
Kekayaan, kekuasaan, kebanggaan, kecantikan dan ketampanan tidak lagi menjadi hal yang mempunyai arti atau nilai lebih ketika gerbang "rumah" sudah ada di depan mata. Tidak ada yang bisa membawa kita kembali ke masa lalu, masa dimana ada kejayaan, atau sebaliknya, masa di mana ada penderitaan. Semua menjadi cerita-cerita yang tidak sempat di ceritakan. Semua menjadi kenangan-kenangan yang tidak sempat lagi untuk kita kenang, ketika kita sudah masuk ke dalam rumah tempat kita kembali pulang
Hidup dalam kehidupan kita dengan penuh arti kehidupan yang positif menurut "aturan kehidupan" yang berlaku, adalah sebuah keharusan yang harus kita terapkan dalam kehidupan kita. Sehingga ketika kita pulang menuju rumah tempat kita kembali, kita akan pulang dengan wajah tanpa ada goresan hitam dari jelaga kesedihan.
Saya teringat apa yang pernah dikatakan Nietzsche, "Janganlah engkau mati sebelum bisa menghantui pikiran semua orang". Dari apa yang di katakan Nietzsche, kita bisa mengambil sebuah kesimpulan tentang pentingnya arti hidup dalam kehidupan. Karena tanpa adanya arti dalam kehidupan kita, kita tidak akan bisa menjadi orang yang bisa menghantui pikiran semua orang. Kita hanya akan menjadi cerita kesedihan selama beberapa hari, untuk kemudian cerita-cerita kesedihan itu hilang dengan sendirinya, bersama hilangnya kesedihan itu sendiri.
Kita hanyalah sekumpulan orang yang menuju pulang, jika kita tidak menanamkan arti hidup dalam kehidupan kita, adalah sebuah konsekswensi logis ketika kita mendapatkan kegersangan, kehampaan, merasa tidak ada prestasi dalam kehidupan kitaketika kita sudah mendekat dengan pintu rumah tempat kita pulang. Tidak akan pernah ada taman yang indah jika tidak ada yang membuatnya.
Menghidupkan arti hidup dalam kehidupan, lebih menghidupkan hidup dengan arti yang positif, adalah awal dari kehidupan kita setelah kematian.
Kekayaan, kekuasaan, kebanggaan, kecantikan dan ketampanan tidak lagi menjadi hal yang mempunyai arti atau nilai lebih ketika gerbang "rumah" sudah ada di depan mata. Tidak ada yang bisa membawa kita kembali ke masa lalu, masa dimana ada kejayaan, atau sebaliknya, masa di mana ada penderitaan. Semua menjadi cerita-cerita yang tidak sempat di ceritakan. Semua menjadi kenangan-kenangan yang tidak sempat lagi untuk kita kenang, ketika kita sudah masuk ke dalam rumah tempat kita kembali pulang
Hidup dalam kehidupan kita dengan penuh arti kehidupan yang positif menurut "aturan kehidupan" yang berlaku, adalah sebuah keharusan yang harus kita terapkan dalam kehidupan kita. Sehingga ketika kita pulang menuju rumah tempat kita kembali, kita akan pulang dengan wajah tanpa ada goresan hitam dari jelaga kesedihan.
Saya teringat apa yang pernah dikatakan Nietzsche, "Janganlah engkau mati sebelum bisa menghantui pikiran semua orang". Dari apa yang di katakan Nietzsche, kita bisa mengambil sebuah kesimpulan tentang pentingnya arti hidup dalam kehidupan. Karena tanpa adanya arti dalam kehidupan kita, kita tidak akan bisa menjadi orang yang bisa menghantui pikiran semua orang. Kita hanya akan menjadi cerita kesedihan selama beberapa hari, untuk kemudian cerita-cerita kesedihan itu hilang dengan sendirinya, bersama hilangnya kesedihan itu sendiri.
Kita hanyalah sekumpulan orang yang menuju pulang, jika kita tidak menanamkan arti hidup dalam kehidupan kita, adalah sebuah konsekswensi logis ketika kita mendapatkan kegersangan, kehampaan, merasa tidak ada prestasi dalam kehidupan kitaketika kita sudah mendekat dengan pintu rumah tempat kita pulang. Tidak akan pernah ada taman yang indah jika tidak ada yang membuatnya.
Menghidupkan arti hidup dalam kehidupan, lebih menghidupkan hidup dengan arti yang positif, adalah awal dari kehidupan kita setelah kematian.
Wednesday, March 31, 2010
Angkot Dan Kemacetan
Siapa sih yang tidak tau Angkot atau angkutan kota?
Alat transportasi yang tidak gratis yang suka ngepot sana-ngepot sini dan berhenti mendadak membuat terkejut pengendara sepeda motor atau mobil yang berada di belakangnya
. Belum lagi kebiasaan angkot yang suka berhenti di sembarang tempat dan sudah pastinya membuat kemacetan semakin parah, ada sih yang lebih parah, lebih parahnya sopir angkot ini cuek-cuek saja cengar-cengir kayak kuda lumping yang gak pernah makan rumput.
Malahan ada beberapa dari kakaknya angkot yaitu bus kota, dengan tanpa beban, ngobrol sesama sopir buskota lain ( tapi satu juragan) berbicara sana-sini waktu berpapasan dan berhenti di tengah jalan, Untung mereka tidak minum kopi dan main catur sekalian, wah bisa beraber tuh dunia... benar-benar deh , pengemudi seperti ini mungkin hati, perasaan dan logikanya sudah menguap bersama asap hitam nan tebal yang keluar dari kenalpot biskotanya..
Malahan ada beberapa dari kakaknya angkot yaitu bus kota, dengan tanpa beban, ngobrol sesama sopir buskota lain ( tapi satu juragan) berbicara sana-sini waktu berpapasan dan berhenti di tengah jalan, Untung mereka tidak minum kopi dan main catur sekalian, wah bisa beraber tuh dunia... benar-benar deh , pengemudi seperti ini mungkin hati, perasaan dan logikanya sudah menguap bersama asap hitam nan tebal yang keluar dari kenalpot biskotanya..
Pagi hari, siang, sore sampai malam, angkot tetap beraktifitas mengais rupiah. Hidup memang keras dan penuh denga kompetisi. Kita memang harus berkompetisi untuk bisa memenangkan pertarungan atau setidaknya bisa bertahan di dalam pertarungan ini untuk kemudian mati dikalahkan ama kerasnya hidup
.
Kita harus berkompetisi, tentunya dengan tidak melupakan kaidah-kaidah atau norma-norma kehidupan dan adanya kesadaran tentang kewajiban untuk menghargai hak-hak orang lain.
Kita harus berkompetisi, tentunya dengan tidak melupakan kaidah-kaidah atau norma-norma kehidupan dan adanya kesadaran tentang kewajiban untuk menghargai hak-hak orang lain.
Kehidupan kita memang tidak bisa lepas dari benda bernama Angkot bin Biskota ini. Pada kenyataannya benda-benda ini memang dibutuhkan oleh beberapa bagian kalangan. Tapi karena ketidak disipilinan dari pengemudinya. imbasnya kita bisa menjumpai fenomena kemacetan yang di sebabkan angkot dan bis kota.
Di kota-kota besar hal ini memang sudah menjadi pemandangan dan kebiasaan sehari-hari, jadi mungkin masyarakatnya sudah terbiasa. Sebut saja di Jakarta, Bandung, Bogor, Semarang, Surabaya. Kebiasaan angkot ini pasti sudah di mengerti dan di pahami. Tapi saya yakin anda akan berubah pikiran dan perasaan ketika anda dalam keadaan tergesa-gesa atau mengejar waktu . Pasti sumpah serapah dan umpatan akan keluar
, setidak nya dari hati anda, Kalau sudah begini saya sarankan anda untuk segera Istigfar saja..karena anda tiba-tiba menjadi orang yang tidak biasa..
..
Di kota-kota besar hal ini memang sudah menjadi pemandangan dan kebiasaan sehari-hari, jadi mungkin masyarakatnya sudah terbiasa. Sebut saja di Jakarta, Bandung, Bogor, Semarang, Surabaya. Kebiasaan angkot ini pasti sudah di mengerti dan di pahami. Tapi saya yakin anda akan berubah pikiran dan perasaan ketika anda dalam keadaan tergesa-gesa atau mengejar waktu . Pasti sumpah serapah dan umpatan akan keluar
Pernah ada temen saya yang mengatakan, waktu itu saya masih ada di Jakarta. Pada saat saya dan teman saya ini pergi menuju ke kawasan Industri di daerah Cikarang, Begitu keluar Tol dan memasuki daerah Cikarang, saya langsung disuguhi dengan kemacetan yang lumayan menjengkelkan, karena saya memang sedang mengejar waktu. Saya bertanya kepada teman saya, "Kok macet, ada apa nih, kecelakaan?". Teman saya menjawab dengan enteng, "Yaah..selama masih ada angkot ya pasti selalu ada Kemacetan".
Jawaban yang sadis tapi realistis. Memang benar seperti itu pada kenyataannya kan..
..
Kalau mau di usut, salah siapa dosa siapa seperti kata Bang Ebiet G. Ade, ini kesalahan pada siapa?
Siapa yang salah siapa yang bertanggung jawab?
Kalau menurut saya Pihak yang berperan terhadap terjadinya keadaan yang tidak baik ini.
Pertama Jelas itu salah Pemerintah dengan aparatnya yang kurang tegas menindak dan menindak, sekali lagi Menindak, atau mungkin mereka tidak bertindak..
,Semoga pemerintah mendengarkan deh. Tidak pernah ada ketegasan hukum di negara kita, hukum akan menjadi jelas kalau kasusnya sudah mencuat, pun masih bisa di otak-atik (otak-otak amat licik). Hlaa kalo angkot mau di urusin secara hukum ya tidak ada duwitnya dong pak dhe..mending ngurus yang ada duitnya aja kali ya..
mungkin itu alasannya bagi pemerintah
. ahh..semoga saja tidak seburuk itu pemerintah kita ya..masa mau kalah sama China yang enam tahun lalu ada di belakang kita, sekarang sudah ada jauh di depan kita.
Kembali ke angkot, Kalau aparat pemerintah yang bertanggug jawab dalam hal ini bisa lebih tegas dengan pelanggaran-pelanggaran yang terjadi, misal ada pengemudi angkot atau biskota tidak berhenti pada tanda S Coret, Tilang aja angkotnya..jangan suratnyaa...buat apa surat?bukannya masih bisa di manipulasi?eh kok malah di bayar ditempat, seperti jual beli saja ya...ya gak bakal sembuh korengnya...
Bagaimana nih pemerintah?perasaan dari saya kecil sampe sekarang masih tetep sama saja.
Apa pemerintah Lupa ya kalau marka jalan itu dibuat tidak dengan gratis. Sehingga acuh tak acuh ketika marka atau rambu jalan itu hanya menjadi penghias jalan, atau mungkin malah mempersempit jalan?
Atau memang aparatur yang bertanggung jawab dalam hal ini terlalu banyak pekerjaan, sehingga tidak mampu atau tidak bisa menertibkan pengguna jalan yang tidak disiplin dan berpotensi merugikan pengguna jalan yang lain. yah bilang saja angkot deh. bis kota deh..bajaj deh. Atau mungkin tidak niat karena kerja tidak kerja tetap mendapat gaji?
...
Pihak kedua yang berperan dan harus bertanggung jawab dalam hal ini adalah pengemudi angkot itu sendiri. Jangan seenaknya dong berhenti disembarang tempat, ngepot sana ngepot sini, berhenti mendadak di tengah jalan dan langsung motong jalan yang pada akhirnya menimbulkan kemacetan. Pada saat melakukan tindak ketidak sopanan ini, kalau kita perhatikan wajah atau mimik Pengemudi angkot seoalah minta kita untuk mengerti dirinya.
Kita sama-sama mencari makan, tapi tentunya harus dengan cara yang benar dan tidak berpotensi merugikan orang lain. Saling menghargai, saling memahami mungkin sebuah solusi. Atau mungkin ada solusi yang lain?
Yah itulah fenomena angkot yang sering menciptakan kemacetan yang panjang, motivasi yang pasti adalah karena mereka mengejar SETORAN!
Semoga Bermanfaat 
Gambar bus dan angkot diambil dari: http://foto.detik.com/images/content/2007/07/19/157/angkot4.jpg
Gambar pulisi di ambil dari: http://aminudin.net/wp-content/uploads/2009/06/kartun_polisi.jpg
Subscribe to:
Posts (Atom)
Jasa Ketik Surabaya: Solusi Praktis dan Ekonomis untuk Kebutuhan Dokumen Anda
Surabaya, sebagai salah satu kota terbesar di Indonesia, memiliki berbagai kebutuhan administratif, baik untuk keperluan bisnis, akademik,...
-
Saya yakin Anda pasti sudah tahu mengenai Trading Forex , atau setidaknya pernah mendengar tentang investasi trading forex . Bagi yang be...
-
Halo, Sobat Numerologi! Pernah nggak sih, kepikiran kenapa kadang ada orang yang jalannya mulus-mulus aja, sementara yang lain harus melal...